Abadi LNG Project LNG Raksasa di Blok Masela

 Indonesia

Maluku, Indonesia | Arafura Sea

Abadi LNG Project merupakan pengembangan lapangan gas Abadi di Masela Block, Laut Arafura, Maluku. Proyek ini dioperasikan oleh INPEX Masela Ltd. dan menjadi salah satu proyek gas dan LNG terbesar yang sedang dikembangkan di Indonesia.

Lapangan Abadi ditemukan pada tahun 2000. Masela PSC sendiri memiliki luas sekitar 2.503 km², dengan lokasi lapangan berada sekitar 170–180 km barat daya Kepulauan Tanimbar dan pada kedalaman laut sekitar 400–800 meter. Area reservoir Abadi sendiri merupakan struktur gas yang sangat besar; studi sebelumnya memperkirakan sumber daya gas yang dapat dipulihkan berada pada skala puluhan Tcf, meskipun angka cadangan final bergantung pada klasifikasi dan evaluasi pengembangan terbaru.

Skala Produksi

Konsep pengembangan Abadi dirancang untuk menghasilkan:

9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA)
150 MMSCFD pipeline gas untuk kebutuhan domestik
hingga 35.000 barel kondensat per hari

Secara keseluruhan, total produksi gas proyek setara sekitar 10,5 juta ton per tahun dalam LNG equivalent. LNG akan diproduksi melalui fasilitas Onshore LNG Plant di Pulau Yamdena, sementara produksi dan pemrosesan awal gas dilakukan offshore sebelum gas dikirim melalui pipeline menuju fasilitas LNG di darat.

Bagaimana Konsep Abadi LNG Dikembangkan?

Berbeda dengan konsep FLNG yang pernah menjadi opsi pada tahap awal pengembangan, konsep saat ini menggunakan kombinasi offshore production + onshore LNG.

Secara sederhana, alur produksinya adalah:

Abadi Gas Field → Subsea Production System → FPSO → GEP → Onshore LNG Plant → LNG Storage & Export

Gas dari reservoir diproduksikan melalui sistem subsea dan dialirkan menuju Gas FPSO. FPSO berfungsi untuk melakukan pemrosesan awal, termasuk pemisahan gas dan kondensat. Gas yang telah diproses kemudian dikirim melalui Gas Export Pipeline (GEP) menuju fasilitas LNG di darat.

Di Onshore LNG Plant, gas akan diproses lebih lanjut dan dicairkan menjadi LNG sebelum disimpan dan diekspor melalui fasilitas terminal.

FPSO: 1 Unit Gas FPSO

Salah satu komponen utama proyek adalah Gas FPSO (Floating Production, Storage and Offloading).

FPSO ini akan ditempatkan di area lapangan Abadi dengan kedalaman laut sekitar 400–800 meter. Fungsi utamanya adalah menerima produksi dari subsea facilities, melakukan pemrosesan awal gas dan kondensat, kemudian mengirimkan dry gas melalui subsea pipeline menuju fasilitas LNG di darat.

Untuk saat ini, kapasitas spesifik FPSO dalam hal topsides throughput maupun ukuran hull belum diumumkan secara final kepada publik. Yang sudah diketahui adalah fasilitas offshore tersebut dirancang untuk mendukung produksi hingga sekitar 35.000 BOPD kondensat serta kebutuhan gas untuk LNG 9,5 MTPA.

Subsea Development

Pengembangan offshore akan menggunakan SURF — Subsea Umbilicals, Risers and Flowlines.

Sistem ini akan menghubungkan sumur-sumur produksi di dasar laut dengan FPSO. Dengan kedalaman hingga 800 meter, pengembangan subsea Abadi menjadi salah satu aspek teknis penting dalam proyek.

Setelah gas diproses di FPSO, dry gas akan dialirkan melalui Gas Export Pipeline (GEP) menuju Onshore LNG Plant di Yamdena.

Onshore LNG Plant

Fasilitas LNG akan dibangun di Yamdena Island, Kepulauan Tanimbar.

Konsep yang diumumkan mencakup dua LNG trains dengan total kapasitas sekitar 9,5 MTPA. Selain LNG trains, fasilitas pendukung mencakup LNG storage, loading/export facilities, jetty, material offloading facilities dan logistic supply base.

Dengan demikian, proyek Abadi bukan hanya pembangunan LNG plant, tetapi merupakan integrated development yang mencakup:

  • Subsea Production System
  • SURF
  • Gas FPSO
  • Gas Export Pipeline
  • Onshore LNG Plant
  • LNG Storage
  • LNG Export Facilities
  • Jetty
  • Material Offloading Facility
  • Logistic Supply Base
  • Pipeline Gas Facilities
  • CCS Facilities

CCS Menjadi Bagian dari Pengembangan

Salah satu perubahan penting dalam konsep Abadi adalah integrasi Carbon Capture and Storage (CCS).

Revised Plan of Development yang disetujui pemerintah pada 2023 memasukkan CCS ke dalam pengembangan proyek. CO₂ yang dihasilkan dalam proses pengolahan gas akan ditangkap dan direncanakan untuk diinjeksi kembali ke reservoir/storage formation melalui sistem CCS.

Karena CCS dirancang sejak awal pengembangan, Abadi menjadi salah satu proyek LNG Indonesia yang mengintegrasikan gas production, LNG processing dan carbon management dalam satu development concept.

Siapa Pemilik dan Operatornya?

Struktur participating interest Abadi saat ini adalah:

INPEX Masela Ltd. — 65% | Operator
PT Pertamina Hulu Energi Masela — 20%
PETRONAS Masela Sdn. Bhd. — 15%

Pertamina dan PETRONAS bergabung sebagai partner pada 2023 setelah Shell keluar dari proyek.

Siapa Kontraktornya?

Per Agustus 2026, kontraktor yang telah diumumkan secara resmi terutama berada pada tahap FEED. EPC final belum seluruhnya ditetapkan.

1. FPSO — Dual FEED

Konsorsium 1

  • PT Technip Engineering Indonesia — Lead
  • PT Technip Indonesia
  • PT JGC Indonesia

Konsorsium 2

  • PT Saipem Indonesia — Lead
  • PT Tripatra Engineers & Constructors
  • PT Tripatra Engineering
  • PT McDermott Indonesia

Kedua konsorsium menjalankan dual FEED secara paralel. Konsorsium yang memberikan solusi teknis dan komersial terbaik akan dipilih untuk melanjutkan ke tahap EPC.

2. SURF & GEP

PT Worley SEA Indonesia

Worley menangani FEED untuk Subsea Umbilicals, Risers and Flowlines (SURF) serta Gas Export Pipeline (GEP) dari FPSO menuju Onshore LNG Plant. Pekerjaan ini juga mencakup aspek terkait CCS sesuai pembagian scope proyek.

3. Onshore LNG Plant — Dual FEED

Konsorsium 1

  • PT JGC Indonesia — Lead
  • PT Technip Engineering Indonesia

Konsorsium 2

  • PT KBR Indonesia — Lead
  • Samsung E&A
  • PT Adhi Karya (Persero) Tbk

Sama seperti FPSO, dua konsorsium menjalankan dual FEED. Model ini memungkinkan INPEX memilih kontraktor EPC berdasarkan hasil FEED yang paling kompetitif secara teknis dan komersial.

Seberapa Besar Area Proyek?

Masela PSC memiliki luas sekitar 2.503 km².

Untuk fasilitas darat, laporan mengenai proses pembebasan dan kompensasi lahan pada Juli 2026 menyebut kawasan proyek sekitar 660 hektare. Angka 660 hektare tersebut perlu dibedakan dari luas blok PSC 2.503 km² karena keduanya merupakan cakupan yang berbeda.

Sementara fasilitas offshore berada sekitar 170–180 km dari Kepulauan Tanimbar dan berada pada lingkungan laut dengan kedalaman sekitar 400–800 meter.

Timeline Proyek

2000 — Abadi Gas Field ditemukan.

2019 — Pemerintah menyetujui development plan dengan target produksi LNG 9,5 MTPA.

2023 — Revised Plan of Development dengan integrasi CCS disetujui; Pertamina dan PETRONAS bergabung sebagai partner.

Agustus 2025 — FEED proyek dimulai dan seluruh empat paket FEED mulai diberikan: FPSO, SURF, GEP dan Onshore LNG.

Februari 2026 — INPEX memperoleh environmental approval berdasarkan proses AMDAL.

2026 — Proyek memasuki tahap persiapan pembangunan dan pengembangan lahan di Tanimbar.

2027 — INPEX menargetkan Final Investment Decision (FID).

Awal 2030-an — Target awal produksi berdasarkan rencana INPEX saat ini.

LNG Offtakers & Domestic Gas

Pada Mei 2026, INPEX mengumumkan basic agreements untuk LNG Abadi dengan beberapa calon buyer, termasuk bp, PLN Energi Primer Indonesia, PGN dan Shell Eastern Trading.

Untuk gas domestik melalui pipeline, INPEX juga mencapai basic agreement dengan PT Pupuk Indonesia. Kesepakatan ini menjadi bagian penting dari strategi komersialisasi produksi Abadi menuju FID.

Mengapa Abadi LNG Penting?

Dengan investasi sekitar US$20 miliar lebih, kapasitas LNG 9,5 MTPA, satu gas FPSO, subsea development, pipeline offshore-to-onshore, dua LNG trains dan integrasi CCS, Abadi LNG merupakan mega-project dengan rantai pekerjaan yang sangat panjang.

Dampaknya tidak hanya berada pada produksi gas.

Proyek ini berpotensi menciptakan aktivitas besar pada:

Engineering → Procurement → Fabrication → Construction → Offshore Installation → Commissioning → Start-up → Operations

Selain international EPC companies, proyek ini juga melibatkan banyak perusahaan Indonesia seperti JGC Indonesia, Technip Engineering Indonesia, Saipem Indonesia, Tripatra, McDermott Indonesia, Worley SEA Indonesia, KBR Indonesia dan Adhi Karya pada tahap FEED.

Bagi industri Indonesia, Abadi LNG menjadi proyek yang menarik untuk diperhatikan karena akan membuka kebutuhan terhadap engineering, fabrication, offshore construction, subsea, LNG technology, commissioning, manpower, logistics, inspection & certification, project controls dan supply chain dalam skala besar.

Galeri : 

chatgpt image jul 27, 2026, 12 12 31 pm

Stay Connected with IEI

    Discover industry updates, market insights, engineering knowledge, and opportunities that shape the future of energy.